FENOMENA CANCEL CULTURE DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEBEBASAN BERPENDAPAT DI RUANG PUBLIK DIGITAL

Autor(s): Siti Muthoharoh

Abstract

Fenomena cancel culture, di mana individu atau entitas dikucilkan secara sosial atau profesional karena perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas, telah menjadi perdebatan sengit di ruang publik digital. Meskipun dapat menjadi alat akuntabilitas, ia juga menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kebebasan berpendapat. Penelitian ini menganalisis fenomena cancel culture dan dampaknya terhadap kebebasan berpendapat di ruang publik digital. Metode yang digunakan adalah analisis wacana terhadap kasus-kasus cancel culture yang menonjol, survei opini publik mengenai persepsi terhadap cancel culture, dan wawancara dengan individu yang pernah mengalami atau terlibat dalam fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture dapat menjadi mekanisme bagi kelompok marginal untuk menuntut keadilan dan akuntabilitas, namun juga berpotensi memicu efek chilling effect, di mana individu menjadi takut untuk menyatakan pendapat yang tidak populer. Pembahasan lebih lanjut mengungkapkan bahwa batas antara kritik yang sah dan persekusi seringkali kabur, dan media sosial mempercepat penyebaran informasi tanpa konteks. Implikasi dari temuan ini adalah perlunya diskusi yang lebih nuansa tentang batas-batas kebebasan berpendapat, tanggung jawab platform digital, dan pentingnya budaya dialog yang konstruktif untuk mencegah polarisasi ekstrem dan menjaga ruang publik yang sehat.

 

Keywords

Cancel Culture, Kebebasan Berpendapat, Ruang Publik Digital, Akuntabilitas, Polarisasi

Refbacks

  • There are currently no refbacks.