MEMBANGUN JEMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MELALUI KULINER HALAL: STUDI KASUS DIPLOMASI MAKANAN

Autor(s): Munti Kunmiati

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi kuliner halal sebagai medium universal yang dapat menjembatani perbedaan budaya dan agama, menawarkan pendekatan unik dalam komunikasi antarbudaya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana kuliner halal dapat digunakan sebagai alat diplomasi makanan untuk membangun jembatan komunikasi antarbudaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada festival kuliner halal internasional atau inisiatif diplomasi makanan yang melibatkan makanan halal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan penyelenggara acara, koki, pengunjung dari berbagai latar belakang, serta observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuliner halal berhasil menarik minat masyarakat dari berbagai latar belakang budaya dan agama karena keunikan rasa, kebersihan, dan jaminan etisnya. Melalui pengalaman berbagi makanan, terjadi interaksi informal yang mengurangi prasangka, memicu dialog, dan membangun pemahaman tentang budaya dan nilai-nilai Islam. Makanan berfungsi sebagai "bahasa universal" yang melampaui hambatan verbal. Pembahasan menggarisbawahi bahwa diplomasi makanan merupakan strategi komunikasi antarbudaya yang efektif karena melibatkan indra dan menciptakan pengalaman positif bersama. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya bagi pemerintah, pelaku industri kuliner, dan komunitas Muslim untuk lebih aktif mempromosikan kuliner halal sebagai bagian dari diplomasi budaya. Hal ini tidak hanya meningkatkan citra Islam tetapi juga memperkuat hubungan antarbudaya dan ekonomi.

 

Keywords

Komunikasi Antarbudaya, Kuliner Halal, Diplomasi Makanan, Jembatan Komunikasi, Interaksi Budaya

Refbacks

  • There are currently no refbacks.