EVALUASI PROGRAM FORTIFIKASI PANGAN SKALA NASIONAL DALAM MENGATASI DEFISIENSI MIKRONUTRIEN.
Abstract
Defisiensi mikronutrien, atau "kelaparan tersembunyi," merupakan masalah kesehatan masyarakat yang meluas di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan imunitas. Program fortifikasi pangan skala nasional, seperti fortifikasi tepung terigu dengan zat besi dan asam folat, atau garam dengan yodium, telah diimplementasikan sebagai strategi biaya-efektif untuk mengatasi defisiensi ini. Namun, efektivitas program ini perlu dievaluasi secara berkala. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak program fortifikasi pangan skala nasional di Indonesia terhadap status mikronutrien populasi dan prevalensi defisiensi terkait. Metode yang digunakan adalah analisis data sekunder dari survei kesehatan nasional (misalnya, Riskesdas, Survei Konsumsi Pangan Individu) sebelum dan sesudah implementasi program fortifikasi, serta data penjualan produk pangan terfortifikasi. Studi juga akan melibatkan pengumpulan sampel produk pangan terfortifikasi di pasar untuk menguji kadar mikronutrien. Analisis statistik akan fokus pada tren prevalensi anemia, defisiensi yodium, dan defisiensi folat. Hasil awal menunjukkan penurunan prevalensi defisiensi yodium yang signifikan setelah implementasi program fortifikasi garam, namun dampak pada anemia masih bervariasi dan memerlukan intervensi tambahan. Pembahasan akan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan atau kegagalan program, termasuk kepatuhan industri, pemantauan kualitas, dan penerimaan konsumen. Implikasi dari penelitian ini adalah rekomendasi kebijakan untuk penguatan program fortifikasi, seperti peningkatan penegakan regulasi, diversifikasi jenis pangan terfortifikasi, dan kampanye kesadaran publik, untuk mencapai cakupan mikronutrien yang lebih luas dan berkelanjutan.
Â
Keywords
Refbacks
- There are currently no refbacks.













