FENOMENA "CANCEL CULTURE" DAN DAMPAKNYA TERHADAP KOHESI SOSIAL: PERSPEKTIF PSIKOLOGI KOMUNIKASI.
Abstract
Latar belakang masalah ini adalah munculnya fenomena "cancel culture" di media sosial, di mana individu atau kelompok menghadapi boikot massal atau penarikan dukungan publik atas perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas. Meskipun bertujuan untuk akuntabilitas sosial, dampaknya terhadap kohesi sosial dan psikologi individu masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak "cancel culture" terhadap kohesi sosial dari perspektif psikologi komunikasi. Metode yang digunakan adalah analisis konten terhadap kasus-kasus "cancel culture" yang viral di media sosial, diikuti dengan wawancara mendalam dengan individu yang pernah menjadi target dan pengamat sosial. Data dikumpulkan mengenai pola komunikasi, reaksi publik, dan dampak psikologis pada individu yang terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa "cancel culture" dapat memicu polarisasi kelompok, mengurangi toleransi terhadap perbedaan pendapat, dan menciptakan iklim ketakutan untuk berekspresi. Bagi individu yang "dibatalkan", dampaknya bisa berupa isolasi sosial, tekanan mental, dan kerusakan reputasi yang sulit dipulihkan. Pembahasan menggarisbawahi bahwa meskipun akuntabilitas penting, metode "cancel culture" seringkali kurang proporsional dan tidak memberikan ruang untuk dialog atau penebusan. Implikasi utamanya adalah perlunya mengembangkan literasi media yang lebih kritis, mendorong komunikasi yang konstruktif, dan mencari mekanisme akuntabilitas yang lebih adil dan restoratif untuk menjaga kohesi sosial di era digital.
Â
Keywords
Refbacks
- There are currently no refbacks.













