DIGITAL STORYTELLING SEBAGAI ALAT ADVOKASI SOSIAL: MEMBANGUN EMPATI DAN KESADARAN PUBLIK.
Abstract
Latar belakang masalah ini adalah bahwa isu-isu kesejahteraan sosial yang kompleks seringkali sulit dikomunikasikan kepada publik secara efektif, sehingga menghambat mobilisasi dukungan dan perubahan kebijakan. Digital storytelling, dengan kemampuannya untuk menyampaikan narasi personal yang kuat melalui media digital, menawarkan potensi besar sebagai alat advokasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas digital storytelling sebagai alat advokasi sosial dalam membangun empati dan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu kesejahteraan sosial. Metode yang digunakan adalah studi kasus terhadap beberapa kampanye advokasi sosial yang menggunakan digital storytelling (misalnya, video pendek, podcast, narasi interaktif). Data dikumpulkan melalui analisis konten terhadap cerita yang dibuat, data jangkauan dan keterlibatan audiens di media sosial, serta wawancara dengan pembuat cerita dan partisipan audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital storytelling sangat efektif dalam menciptakan koneksi emosional, memanusiakan isu-isu kompleks, dan mendorong empati di kalangan audiens. Narasi personal yang otentik lebih mungkin untuk memicu kesadaran dan bahkan tindakan dibandingkan dengan data statistik semata. Pembahasan menggarisbawahi bahwa digital storytelling memberdayakan individu yang terpinggirkan untuk menceritakan kisah mereka sendiri, memberikan suara kepada yang tak bersuara. Implikasi utamanya adalah rekomendasi bagi organisasi masyarakat sipil dan aktivis sosial untuk mengadopsi digital storytelling sebagai strategi inti dalam kampanye advokasi mereka, menyediakan pelatihan dan sumber daya yang diperlukan, dan memanfaatkan kekuatan narasi digital untuk menggerakkan perubahan sosial yang positif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Â
Keywords
Refbacks
- There are currently no refbacks.













