MODEL KEPEMIMPINAN KOLEKTIF DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA.
Abstract
Sejarah peradaban Islam tidak hanya mengenal kepemimpinan individual yang kuat, tetapi juga model kepemimpinan kolektif yang melibatkan dewan, majelis, atau konsensus (ijma'). Konsep seperti syura (musyawarah) dan ahl al-hall wa al-'aqd (orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengikat dan melepaskan) menunjukkan adanya tradisi pengambilan keputusan dan kepemimpinan yang bersifat kolektif. Latar belakang ini mendorong eksplorasi model ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis model kepemimpinan kolektif dalam sejarah peradaban Islam dan mengeksplorasi implikasinya bagi praktik kepemimpinan kontemporer. Metode yang digunakan adalah kajian historis-analitis, menelusuri contoh-contoh kepemimpinan kolektif dari masa Khulafaur Rasyidin, kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, hingga lembaga-lembaga keilmuan dan sosial Islam. Fokus analisis adalah pada struktur, mekanisme pengambilan keputusan, dan hasil dari kepemimpinan kolektif tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kolektif, meskipun seringkali menantang dalam implementasi, dapat menghasilkan keputusan yang lebih bijaksana, meningkatkan legitimasi, dan mendorong partisipasi. Pembahasan akan menguraikan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kepemimpinan kolektif, seperti integritas anggota, prosedur yang jelas, dan semangat kebersamaan. Implikasi dari penelitian ini adalah penyediaan alternatif bagi paradigma kepemimpinan individualistik yang dominan, menunjukkan bahwa kepemimpinan kolektif, yang berakar pada tradisi Islam, dapat menjadi solusi efektif untuk menghadapi kompleksitas masalah modern, mendorong kolaborasi, dan membangun kapasitas kepemimpinan yang lebih luas di berbagai organisasi dan komunitas.
Â
Keywords
Refbacks
- There are currently no refbacks.













