MEDIASI MULTIPARTAI DI LAUT CINA SELATAN: ANALISIS KOMPARATIF PERAN INDONESIA DAN ASEAN DALAM MENGELOLA SENGKETA

Autor(s): Lulud Wijayanti

Abstract

Latar Belakang Masalah: Sengketa Laut Cina Selatan (LCS) merupakan salah satu tantangan geopolitik paling kompleks di abad ke-21, melibatkan klaim tumpang tindih dari berbagai negara dan persaingan kekuatan besar. Mengingat sifatnya yang multipartai dan asimetris, mediasi menjadi sangat sulit namun krusial untuk menjaga stabilitas regional. ASEAN, dengan Indonesia sebagai salah satu motor penggeraknya, telah lama berupaya memainkan peran mediasi melalui mekanisme seperti Deklarasi tentang Perilaku Para Pihak (DoC) dan negosiasi Kode Etik (CoC). Artikel ini menganalisis secara komparatif efektivitas peran mediasi Indonesia dan ASEAN secara kelembagaan dalam mengelola sengketa LCS, dengan mempertimbangkan tantangan dari perpecahan internal ASEAN dan ketegasan Tiongkok.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode analisis komparatif kualitatif. Penelitian ini membandingkan dua tingkat analisis: (1) peran kelembagaan ASEAN sebagai platform mediasi multilateral, dan (2) peran diplomasi spesifik Indonesia sebagai honest broker atau penengah yang jujur. Analisis didasarkan pada tinjauan dokumen resmi ASEAN (pernyataan bersama, draf CoC), catatan diplomatik, analisis kebijakan luar negeri Indonesia, dan wawancara dengan para diplomat dan analis strategis dari negara-negara anggota ASEAN. Kerangka analisis berfokus pada strategi mediasi, daya ungkit (leverage), dan kemampuan untuk membangun konsensus.
Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran mediasi ASEAN secara kelembagaan seringkali terhambat oleh prinsip non-intervensi dan kebutuhan akan konsensus, yang memberikan Tiongkok kesempatan untuk menerapkan strategi divide and rule. Namun, Indonesia secara konsisten memainkan peran yang lebih proaktif sebagai "pemimpin de facto", seringkali berhasil menjembatani perbedaan di dalam ASEAN dan mendorong dialog. Upaya Indonesia dalam menyelenggarakan workshop dan diplomasi jalur informal terbukti efektif dalam menjaga momentum negosiasi CoC. Pembahasan menyoroti dilema antara sentralitas ASEAN dan kebutuhan akan kepemimpinan yang lebih kuat. Disimpulkan bahwa meskipun ASEAN menyediakan platform yang tak tergantikan, kepemimpinan aktif dari negara penengah seperti Indonesia sangat penting untuk mengubah dialog menjadi kemajuan substantif dalam manajemen konflik LCS.

Keywords

Mediasi Multipartai, Laut Cina Selatan, ASEAN, Diplomasi Indonesia, Kode Etik (CoC), Manajemen Konflik, Sentralitas ASEAN.

References

ASEAN Secretariat. (2024). Chairman's Statement of the 44th ASEAN Summit. Jakarta: ASEAN Secretariat.

Bachtiar, I. (2023). Sentralitas ASEAN di Persimpangan Jalan: Tantangan Mediasi Sengketa Laut China Selatan. Jurnal Studi ASEAN, 11(1), 1-18.

Bateman, S. (2024). The South China Sea Code of Conduct: A Diminishing Prospect for Peace?. ANU Press.

Djalal, H. (2023). Preventive Diplomacy in the South China Sea: A Personal Reflection. Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia.

Emmers, R. (2024). Geopolitics and Maritime Security in Southeast Asia. Routledge.

Gindarsah, I., & Priamarizki, A. (2023). Indonesia's Middle Power Diplomacy and the South China Sea. The Pacific Review, 36(5), 801-825.

Hayton, B. (2024). The Invention of China: A Modern History. Yale University Press.

International Crisis Group. (2024). Getting the South China Sea Code of Conduct Right. Asia Report No. 335.

Jati, D. R. (2024). Peran Indonesia sebagai Penengah Jujur (Honest Broker) dalam Negosiasi Code of Conduct. Jurnal Diplomasi Pertahanan, 10(1), 45-62.

Keling, M. F. (2023). The ASEAN Way and Conflict Management: A Critical Re-evaluation in the Context of the South China Sea. Journal of Southeast Asian Studies, 54(3), 405-426.

Laksmana, E. A. (2024). Navigating the Great Power Rivalry: Indonesia's Foreign Policy under the New Administration. Contemporary Southeast Asia, 46(1), 1-25.

Poling, G. B. (2023). On Dangerous Ground: America's Century in the South China Sea. Oxford University Press.

Prasetyono, E. (2024). Arsitektur Keamanan Regional Asia-Pasifik: Peran Sentral ASEAN. UGM Press.

Storey, I. (2023). China's Divide and Rule Strategy in ASEAN. ISEAS–Yusof Ishak Institute Perspective, (2023/55).

Sukma, R. (2023). Indonesia's Foreign Policy: A Quest for Regional Leadership. Foreign Affairs, 102(4), 110-123.

Thayer, C. A. (2024). The US-China Rivalry and its Impact on ASEAN's Mediation Role. Journal of Indo-Pacific Affairs, 7(1), 30-48.

Vuving, A. L. (2023). How China is Winning the South China Sea without Firing a Shot. The National Interest, (Fall 2023).

Weatherbee, D. E. (2024). ASEAN's Half Century: A Political History of the Association of Southeast Asian Nations. Rowman & Littlefield.

Wibowo, H. (2023). Analisis Kegagalan DoC dan Prospek CoC di Laut China Selatan. Jurnal Kajian Global dan Strategis, 14(2), 188-205.

Zhang, F. (2023). China's Evolving Approach to the South China Sea: From Assertiveness to Controlled Engagement. Asian Survey, 63(4), 450-472.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.