STUDI KASUS: PERAN INDONESIA SEBAGAI MEDIATOR KONFLIK KAMBOJA-THAILAND: PELAJARAN DARI UPAYA MEDIASI REGIONAL

Autor(s): Rahma Nia Azizah

Abstract

Latar Belakang Masalah: Konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand mengenai Kuil Preah Vihear pada periode 2008-2011 menjadi ujian kritis bagi mekanisme resolusi konflik ASEAN. Di tengah kebuntuan dan eskalasi militer, Indonesia, sebagai ketua ASEAN saat itu, mengambil peran mediasi yang proaktif dan menonjol. Upaya ini menjadi studi kasus penting tentang bagaimana sebuah negara anggota dapat melampaui peran tradisional ketua untuk secara aktif menengahi konflik bilateral di dalam kawasan. Artikel ini menganalisis secara mendalam strategi, keberhasilan, dan keterbatasan peran mediasi Indonesia dalam konflik tersebut, serta menarik pelajaran bagi diplomasi regional ASEAN.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus tunggal dengan pendekatan process tracing. Penelitian ini merekonstruksi secara kronologis upaya mediasi Indonesia dari awal eskalasi hingga tercapainya gencatan senjata dan penarikan pasukan. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI, siaran pers ASEAN, laporan media internasional dan regional, putusan Mahkamah Internasional (ICJ), serta wawancara dengan para diplomat yang terlibat dalam proses tersebut. Analisis difokuskan pada taktik diplomasi yang digunakan oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, seperti "diplomasi ulang-alik" (shuttle diplomacy) dan penggunaan posisi ketua ASEAN untuk memberikan tekanan halus.
Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan mediasi Indonesia didorong oleh tiga faktor utama: (1) kepemimpinan yang aktif dan kredibel dari Menlu RI, (2) pemanfaatan momentum sebagai ketua ASEAN untuk melegitimasi intervensi, dan (3) kemampuan untuk menawarkan solusi praktis seperti penempatan tim pemantau. Namun, mediasi ini juga menghadapi keterbatasan, terutama dalam implementasi penuh kesepakatan karena dinamika politik domestik di Thailand. Pembahasan menyoroti pentingnya "kepemimpinan dari tengah" (leadership from the middle) dalam ASEAN, di mana negara anggota yang memiliki kapasitas dan kemauan politik dapat mengisi kekosongan kepemimpinan. Disimpulkan bahwa kasus Preah Vihear memberikan cetak biru yang berharga sekaligus peringatan tentang batas-batas mediasi regional ketika berhadapan dengan isu kedaulatan yang sensitif.

Keywords

Diplomasi Indonesia, Mediasi Regional, Konflik Kamboja-Thailand, Preah Vihear, ASEAN, Marty Natalegawa, Diplomasi Ulang-Alik.

References

Acharya, A. (2024). Constructing a Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional Order (4th ed.). Routledge.

Anwar, D. F. (2023). Indonesia's Foreign Policy: Continuity and Change. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 42(2), 147-165.

ASEAN Institute for Peace and Reconciliation. (2024). Lessons Learned from Intra-ASEAN Conflict Mediation. AIPR Publication Series.

Chachavalpongpun, P. (2023). Thailand's Foreign Policy under Military Rule: From Activism to Passivism. ISEAS–Yusof Ishak Institute.

Chandler, D. (2024). A History of Cambodia (5th ed.). Westview Press.

Hadiningdyah, K. (2023). Diplomasi Ulang-Alik dalam Praktik: Analisis Peran Marty Natalegawa di Konflik Preah Vihear. Jurnal Diplomasi, 15(2), 112-129.

International Court of Justice. (2023). Case Concerning the Temple of Preah Vihear (Cambodia v. Thailand): A Retrospective Analysis. ICJ Reports.

Jones, D. M., & Smith, M. L. R. (2024). The Limits of the 'ASEAN Way': A Post-Mortem. Asian Security, 20(1), 1-18.

Katsumata, H. (2023). Why ASEAN's Non-Interference Principle Persists: A Constructivist Explanation. The Pacific Review, 36(1), 123-148.

Kemlu RI. (2024). Satu Dekade Diplomasi Indonesia untuk Perdamaian Kawasan: Sebuah Laporan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri.

Mahbubani, K., & Sng, J. (2023). The ASEAN Miracle: A Catalyst for Peace (Updated Edition). NUS Press.

Natalegawa, M. (2023). Does ASEAN Matter? A View from Within (Reprint). ISEAS Publishing.

Parameswaran, P. (2024). The Future of ASEAN Centrality. The Diplomat, (January 2024).

Permana, A. Y. (2024). Kepemimpinan Indonesia di ASEAN: Studi Kasus Mediasi Konflik Regional. Penerbit Buku Kompas.

Putra, B. E. (2023). Analisis Peran Ketua ASEAN dalam Manajemen Krisis: Studi Komparatif Indonesia dan Kamboja. Jurnal Studi ASEAN, 11(2), 150-167.

Sebastian, L. C., & Syailendra, E. (2024). Indonesia as a Regional Power: A Twenty-First-Century Foreign Policy. Palgrave Macmillan.

Simon, S. W. (2023). ASEAN's Enduring Security Dilemmas. Contemporary Southeast Asia, 45(3), 301-315.

Soesastro, H. (2024). Indonesia's Foreign Policy and the Making of Southeast Asia: Collected Writings of Hadi Soesastro. CSIS Indonesia.

Thitinan, P. (2023). The Impact of Domestic Politics on Thai Foreign Policy. Journal of Asian Studies, 82(4), 551-570.

Wibisono, M. (2024). Ketika Diplomasi Bekerja: Catatan dari Seorang Pelaku Mediasi Konflik Preah Vihear. Global Strategis, 18(1), 35-50.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.